Di kala langit menangis lirih
Tetes hujan menyatu dengan duka
Menyusuri pipi yang tersisih
Membawa bisu yang lama mengusik jiwa
Setiap rintik adalah cerita
Luka yang diam terungkap perlahan
Air mata berbaur dengan asa
Menyirami bunga hati yang sepi dan kelam
Dalam desau hujan yang mengalun
Ada nyanyian rindu yang tersimpan
Menyatu dengan gemuruh yang datang
Menghapus noda masa lalu yang terlupakan
Dan di sela tiap tetes yang jatuh
Aku temukan jejak keabadian
Bahwa setiap air mata yang menunduk
Adalah doa pada langit penuh harapan
Teduh itu kini tak lagi nyaman
Bayang hujan hanya menambah kelam
Di sudut hati yang kehilangan
Air pun menjadi dendam
Bunga dalam dada merunduk lesu
Menahan gerimis tanpa daya
Meski awan gelap telah berlalu
Kuncupnya tetap merana
Aku menunggu langit bicara
Membawa kabar tentang musim cerah
Namun suara itu tiada
Yang ada hanya sepi yang pasrah
Barangkali aku tak lagi berharap
Barangkali aku tak lagi haus
Namun mengapa rintik tetap menatap
Menggoda jiwa yang terus luruh?
Hujan menyapa di ufuk sendu
Di sela sepi yang kian rapuh
Bunga hati yang lelah terbayu
Menanti embun menetes syahdu
Daun-daun gugur tanpa peduli
Alam berbisik dalam lirih asmara
Jiwaku terjebak di rindu yang sepi
Mencari sisa air di kala resah
Dalam rintik lembut yang mengalun
Kuberantas bekas luka malam
Setetes harapan tersimpan dalam kalbu
Menyulam mimpi yang tak terbilang
Kini ku berseru pada langit tenang
Biarkan hujan siram jiwa yang sunyi
Bunga kering itu temukan kembali
Harapan hidup, bersemi seiring waktu menant
Hujan turun sepanjang petang
Menari di atas genting yang lunglai
Namun di dadaku, sepi yang menang
Kemarau tak juga usai
Bunga di taman menggeliat segar
Daunnya basah peluk embun
Namun hatiku, retak tak mekar
Seperti tanah menolak subur
Setiap tetes membisik harapan
Namun jiwaku menutup telinga
Bukan karena tak ingin kehidupan
Tapi karena tak lagi percaya
Mungkin hujan hanya bunyi
Yang menimpa dinding sunyi
Mungkin aku hanya bumi
Yang menolak hidup kembali
Ada waktu yang seharusnya hijau
Namun daun ku layu
Tak ada mekar yang hendak dirayu
Hanya daun gugur yang bisu
Hujan membawa bau tanah
Wangi basah menusuk dada
Namun aku tetap lelah
Menerima hidup tanpa warna
Setiap kelopak layu perlahan
Menggenggam sisa angan yang pudar
Di musim hujan yang penuh harapan
Aku memilih menjadi debu yang liar
Barangkali aku bukan bunga
Yang dipeluk musim tanpa ragu
Aku hanyalah serpih luka
Yang diam di pusaran waktu
Gemuruh langit tak menggugah
Cahaya kilat pun tak menyapa
Di dadaku tanah tetap retak
Meski hujan datang berjuta-juta
Bunga-bunga lain bersorak riang
Mereka meneguk air kehidupan
Aku…? Aku hanya diam menegang
Menanti retakan menjadi lubang
Tiada akar yang mau menjulur
Tiada tunas yang mau tumbuh
Di musim hujan yang seharusnya subur
Hatiku tetap rapuh
Namun, dalam tiap tetes yang jatuh
Tersimpan janji yang tak lekang
Mungkin suatu hari nanti
Aku belajar hidup kembali
Di ladang basah kulihat hijau
Tunas-tunas kecil bangkit malu
Namun hatiku masih membeku
Tanpa warna, tanpa pelukanku
Hujan turun, gemericik bersenandung
Mengajak segala akar berayun
Tapi di hatiku hanya genangan
Yang beku, tak pernah melarutkan
Aku menunggu dan terus menunggu
Seperti ladang merindu padi
Namun benihku tak mau tumbuh
Karena telah kehilangan diri
Tapi aku tahu, waktu tak tidur
Ia selalu membawakan pagi
Mungkin esok tunasku menjulur
Di tanah ku ini
Kupandang langit yang gemetar basah
Hujan jatuh bagai harap yang meluruh
Namun daun-daun di dadaku lelah
Tak lagi menadah rintik yang runtuh
Embun pagi tak menyentuh rasa
Mentari siang tak menghangatkan dada
Aku berdiri di ujung asa
Di mana cinta sekadar cerita
Bunga lain mekar di musim ini
Warnanya membungkus luka dunia
Tapi aku hanya ranting sunyi
Menggenggam angin tanpa suara
Biar hujan terus datang
Biar petir membelah awan
Hatiku tetap akan diam
Sampai ada 1 titik harap itu datang
Di atas genting, hujan menari
Di bawah langit, bumi berseri
Namun hatiku tak ikut bernyanyi
Tetap sepi, tetap sendiri
Bunga di taman saling bercengkerama
Tunas-tunas baru bersuka ria
Aku? Aku tetap diam di sana
Menatap tanah yang lupa cara bercinta
Setiap rintik bagai bait puisi
Yang kubaca tanpa makna lagi
Setiap petir bagai panggilan sunyi
Yang tak mampu kubalas lagi
Namun di dalam diam, kutahu
Ada musim yang terus menunggu
Saat aku mau percaya pelukmu
Hujan kali ini jadi harap yang baru
Musim hujan jatuh seperti nyanyian
Mengetuk kaca, mengetuk rasa
Namun di dalam dada yang diam,
Kemarau tetap saja membara.
Di ladang lain, bunga berseri,
Di sudut hatiku, hanya duri,
Segala basah di luar diri,
Tak menyentuh, tak memberi arti.
Mungkin aku lelah menunggu,
Atau barangkali takut terluka,
Sehingga hati tetap membatu,
Di musim yang mestinya ceria.
Tapi waktu terus menyiram,
Dengan sabar, dengan harap,
Mungkin esok bumi ini ramah,
Menyambut benih yang lama tenggelam.
Kala malam menyelimuti jiwa yang lelah,
Terpaut duka dalam bisu yang pekat,
Namun angin lembut bawa bisikan mesra,
Mengusir pilu, menyulut harapan yang hangat.
Hujan pun tiba, menyejukkan sudut hati,
Tetes-tetesnya menari bagai irama syahdu,
Menyiram kekeringan, membelai luka sepi,
Menganyam senyum di antara rindu yang pilu.
Cahaya fajar menyingkap tirai duka,
Membawa sinar, embun baru terhampar,
Mekar kembali asa yang pernah punah,
Membangkitkan cinta, menyulam kisah terukir.
Kini hati merona, terisi bahagia,
Bersama riang, seirama kehidupan,
Setiap luka bertransformasi jadi puisi bahagia,
Menggapai fajar, menjemput hari penuh kehangatan.
Di tengah kemarau yang merenggut embun,
Hati terbaring, lelah dalam sunyi hampa,
Namun setitik asa tumbuh bagai kuncup mendesis,
Menggugah jiwa, menyongsong hari penuh bahagia.
Hujan datang, menyapa dengan rindu tulus,
Menyirami tanah jiwa yang gersang dan beku,
Tetes-tetesnya membisikkan janji cinta megah,
Mengalirkan hangat, memeluk hati yang terluka.
Bunga harapan pun mekar di pagi yang syahdu,
Menyulam rindu menjadi simfoni kehidupan,
Kelopaknya mencumbu sinar penuh arti,
Menghapus pilu, melahirkan irama kebahagiaan.
Kini hati berseri, bergandeng rindu dengan cinta,
Menyatu dalam harmoni alam yang mendamaikan,
Setiap luka terobati dalam pelukan bahagia,
Mengantar mimpi, menyongsong fajar yang menenangkan.
Di balik awan mendung yang pernah menyelimuti,
Hati tersingkap, menebar asa yang cemerlang,
Menyambut pagi dengan sinar yang mempesona,
Menyingkap rona bahagia, di tiap sudut yang terang.
Hujan merdu menyapa, menari di atas rindu,
Setiap tetesnya bawa cerita penuh warna,
Menyuburkan jiwa yang pernah hampa dan pilu,
Mengalirkan irama cinta, menuntun pada bahagia.
Embun pagi menyapa, membasuh segala duka,
Menghapus kelam dengan sentuhan lembut mesra,
Hati kini berseri, bagai taman yang ceria,
Mekar penuh warna, menebar wangi bahagia.
Setiap detik terukir dalam lukisan indah,
Menggurat kisah tentang cinta yang mengatasi,
Duka berganti tawa, luka jadi pelukan hangat,
Menyulam masa depan dengan nada bahagia yang abadi.
Dalam sepi yang dulu mengurung jiwa,
Kini terlantun nada merdu penuh syair,
Hati yang gersang kembali bersemi bagai bunga,
Menyatu dengan alam, menebar sinar yang bersinar.
Hujan turun lembut, menuliskan simfoni rindu,
Menghapus bayang duka dengan irama hangat,
Setiap tetesnya bagai orkestra yang mengalun baru,
Menyemai tawa, meluluhkan lara yang mengikat.
Embun menyapa, menari di atas dedaunan,
Menggugah jiwa, membasuh luka dalam sunyi,
Riang tercipta dari paduan cinta dan harapan,
Menuntun langkah menuju pelabuhan suci.
Kini harmoni jiwa merajut kisah abadi,
Mengukir masa depan penuh tawa dan cinta,
Luka lama berubah jadi nada sakti,
Menyongsong hari esok, bahagia menyapa ceria.
Dedi Ir
https://edu.abjad.eu.org
Mojokerto Maret 2025
Keyword:
Hati Lelah, Hati yang lelah adalah bunga yang kehabisan air, Bunga Kehabisan Air, Layu, Gersang, Musim Hujan, Kemarau, Kiasan, Metafora